DIENG PLATEAU

HUBUNGI CALYA WISATA
Biro Perjalanan Tour And Travel
082325254142


DIENG PLATEAU

Diang Plateau tidak sekedar menjadi tempat tujuan wisata yang dipenuhi dengan keindahan dan fenomena alam yang menakjubkan. Tetapi berdasarkan analisis dan fakta sejarah, Dieng merupakan mata air dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Jumlah dan keadaan penduduk di Pulau Jawa di masa sebelum abad ke-15 M belum pernah dihitung atau diperkirakan secara pasti. Katakan misalnya, kerajaan besar Majapahit yang memiliki antropolog dan atau sejarawan besar Dhang Acharya Kanakamunni sebagai dharmmadyaksa kasogatan, salah satu jabatan tinggi di kerajaan atau yang kemudian dikenal dengan nama Mpu Prapanca, yang mewariskan naskah brillian Negarakretagama, belum mampu menjangkau hingga hal-hal yang detail semacam itu. Padahal, Negarakretagama, aslinya sebagaimana yang diungkap penulisnya sendiri-berujudul "Decawarnana". Artinya adalah "deskripsi tentang situasi dan kondisi desa-desa" atau wilayah Majapahit masa itu. Demikian juga situasi dan kondisi Kerajaan Demak dan Majapahit yang lebih modern, yang muncul setelah abad ke-15.

Musafir China bernama Fa-Hien yang pada tahun 414 M mendarat di Jawa karena kapalnya terserang badai, mengatakan bahwa di Yeh-p'o-ti (Jawa) banyak Brahmana (Hindu-Budha). Catatan Fa-hien ditulis dalam buku Fo-Kuo-ci. Lokasi yang didatangi Fa-hien mungkin Jawa Barat. Baik Jawa Barat atau Jawa Tengah maupun Jawa Timur memiliki kondisi alam yang cukup baik untuk dimukimi oleh penduduk lokal atau penduduk asing. Adanya kaum Brahmana pada awal abad ke-5 M menunjukkan bahwa penduduk lokal cukup banyak untuk dipengaruhi agama atau bisa jadi banyak pendatang dari India. Atas dasar asumsi ini boleh jadi sejak awal tarikh Masehi, penduduk Jawa juga sudah menempati berbagai wilayah geografi (termasuk Wonosobo) sebagai domisilinya. Tempat-tempat pemukiman awal biasanya dipilih yang terletak di dekat sungai atau dekat pantai. Pada masa itu sungai dan laut dijadikan sebagai prasarana perhubungan untuk mobilitas masyarakat.

Selain itu, juga daerah-daerah pegunungan. Karena berdasarkan arkeologi India, gunung sebagaimana terungkap dalam kitab Vastusastra dianggap sebagai nirwana (surga) tempat tinggal para dewa. Sehingga orang-orang Brahmin, dalam hal ini adalah kaum Hindu-Budha pasti sangat suka menempati wilayah-wilayah ini, dalam arti untuk mendekati tempat yang dianggap sebagai figure of identity , yakni para dewa-dewi yang mereka yakini dan puja. Hal ini jelas mengingatkan kita tentang mitos dan konsep konsep Dieng sebagai Ardhi Hyang Gunung Suci tempat tinggal para dewa, yang juga sekaligus dianggap sebagai pingkalingganingbhuwana (pusat dunia)

Yang pasti pada pertengahan abad ke-7 sudah ada prasasti Sojomerto yang memberitahukan bahwa ada keluarga (raja) bernama Dapunta Selendra. Lokasi Sojomerto ada di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, jauhnya sekitar 14 km di sebelah Selatan Batang, sementara di Kabupaten Magelang ada prasasti Tukmas dari abad ke-6 M. Jadi, di pedalaman Magelang pada abad-abad itu sudah ada komunitas bahkan wangsa-wangsa (kerajaan) yang tumbuh di Jawa yang menganut sistem keyakinan Hindu. Jika bergeser ke Barat, di daerah Bogor telah muncul prasasti dari Kerajaan Tarumanegara. Bentuk tulisannya berasal dari abad ke-5 M. Jadi, pada abad ke-5 M atau sebelumnya sudah ada permukiman penduduk atau wangsa yang tinggal di wilayah Jawa "bagian" Barat. Wangsa atau kerajaan itu tentu tidak tumbuh dalam sekejap, tetapi memerlukan waktu yang cukup panjang, bahkan bergenerasi-generasi sebelumnya.

Sebab, kerajaan sebagai cermin adanya tertib sosial, ekonomi, budaya, hukum, politik, sejarah dan sebagainya, di suatu masyarakat hanya mungkin tumbuh sebagai sarana pengaturan akan usaha dan kepentingan bersama masyarakat. Artinya, pastilah pada masa itu sudah ada komunitas masyarakat yang jumlahnya banyak yang memiliki cita-cita dan keinginan serta tujuan sama, yang memungkinkan terbentuknya sebuah "negara". Atau setidaknya sudah ada sejumlah besar masyarakat yang memerlukan usaha dan pengaturan bersama (hukum), sehingga kepentingan satu masyarakat tidak merugikan diri dan atas kepentingan (komunitas) masyarakat yang lainnya. Maka bisa dipastikan bahwa penduduk Jawa sudah tumbuh dan berkembang sejak awal, bahkan mungkin jauh-jauh hari sebelum abad-abad pertama Masehi.

Wonosobo sebagai bagian dari Jawa Tengah diduga sudah dihuni masyarakat sebelum abad ke-6 M. Masyarakat perlu waktu untuk tumbuh dan berkembang. Dalam jangka waktu tidak terlalu lama sudah muncul Prasasti Dieng no. D.11 (di Museum Nasional Jakarta) yang berangka tahun 694 Saka atau 772 M. Prasasti ini ditemukan di sela-sela runtuhan Candi Dieng. Untuk membangun candi diperlukan waktu puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun. Selain bahan batu, juga diperlukan peralatan pahat dan alat angkut serta tenaga manusia untuk membangun candi itu.

Sumber sejarah kuno terdiri atas bahan benda seperti artefak atau bangunan candi dan benda-benda alat rumah tangga, alat perang serta perhiasan dan alat upacara. Selain bahan benda juga bahan tertulis seperti prasasti, kaligrafi, tulisan pada lontar, dan lain-lain. Sumber sejarah lainnya berupa cerita lisan. Prasasti yang dibuat dan berasal dari wilayah Wonosobo cukup banyak, tetapi tidak sedikit di antaranya sudah rusak sehingga tulisannya aus atau hilang. Walaupun data yang tersisa hanya sedikit, tiap prasasti memberikan andil bagi penulisan Sejarah Kuno Wonosobo.

Bahkan yang paling mengejutkan adalah temuan Raffles, sebagaimana terekam dalam Histori of Java, bahwa di daerah-daerah situs kuno di Dieng dan daerah di sebagian besar wilayah Kedu, juga reruntuhan Candi Prambanan dan sekitarnya, banyak ditemukan benda-benda seni, juga patung-patung yang dipresentasi sebagai figur para dewa, sebagai bagian dari teologi atau keyakinan mereka, yang terbuat dari bahan logam, seperti besi, perunggu, kuningan, dan perak. Bahkan dari logam mulia (emas).

Temuan-temuan benda seni yang terbuat dari batu besar dan logam-logam itu, jelas mengindikasikan beberapa hal. Pertama, adanya sistem wangsa (kerajaan) yang besar dan maju di bidang ilmu pengetahuan dan seni budayanya. Kedua, kemakmuran ekonomi kerajaan dan masyarakatnya yang signifikan. Ketiga, jumlah tenaga kerja yang besar pula dan yang lain-lain yang besangkut paut dengan masalah-masalah yang berkait. Karena notabene untuk membangun sebuah candi, tidak kurang dibutuhkan 12 pakar sekaligus (pakar tanah, sejarah, budaya (kemasyarakat dan perhubungan), filsafat, agama, bangunan, batuan, pahat (relief), sastra, ekonomi dan keuangan, tata boga (makanan), dan pakar metafisika).

Berbicara tentang generasi awal sejarah Wonosobo, yakni mengenai kemungkinan orang-orang "saba" yang pertama atau menjelahi wilayah ini, maka tentu kita tidak bisa melepaskan akan makna dan peran Dataran Tinggi (Pegunungan) Dieng. Karena Dieng merupakan simbol utama, maka kaum Brahmin penganut agama Hindu-Budha yang berkembang di Lembah Indus dari Keling (India) melakukan kontak migrasi pertama di Pulau Jawa. Dalam konteks ini Dieng dijadikan simbol akan langkah awal ketika mereka memulai menapaki Pulau Jawa, untuk selanjutnya menyebar dan membangun tertib sosial, ekonomi, politik, dan sejarah peradaban Jawa.

Sesunguhnya, ada banyak data prasasti yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Mestinya hal itu dapat mengungkap banyak tentang sejarah atau masa lalu Dieng khususnya dan Wonosobo atau bahkan Jawa pada umum. Namun, beberapa prasasti yang ada di komplek Dieng sudah banyak yang hilang, sedangkan sisanya belum terbaca karena tulisannya sangat aus dan nyaris hilang.